Kehadiran Gen Z Telah Mengubah Arah Strategi Komunikasi ‘Brand’

Kehadiran Gen Z Telah Mengubah Arah Strategi Komunikasi ‘Brand’

Gen Z mengubah lanskap komunikasi dengan preferensi digital yang unik. Brand harus beradaptasi dengan strategi autentik dan berbasis komunitas untuk meraih hati mereka.

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Generasi Z sebagai digital native memiliki karakteristik komunikasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Z lebih menghargai autentisitas, kejujuran, dan simplisitas dalam setiap interaksi dengan brand atau organisasi.

Hal tersebut menjadi sorotan utama diskusi Goodtalk Off-air bertajuk Antara Relevansi dan Reputasi: Menakar Gaya Komunikasi ke Gen Z besutan News From Indonesia (GNFI) bersama Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Selasa (24/6/2025).

Menurut pengajar dan peneliti tetap program studi Hubungan Masyarakat Vokasi Universitas Indonesia Devie Rahmawati, kesuksesan strategi komunikasi untuk Gen Z membutuhkan pendekatan yang lebih personal dan bermakna, serta mempertimbangkan aspek emosional dan validasi identitas. “Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh bersama smartphone, paling terkoneksi, tapi nyatanya juga yang paling lonely,” ujarnya dikutip dari Goodstats.id.

Ia menjelaskan, platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah menjadi ruang utama komunikasi Gen Z. Medium yang dipilih, terang Devie, sama pentingnya dengan pesan yang disampaikan. Sebab, medium membentuk cara berpikir mereka. “Medium is the message. Dalam konteks ini berarti bukan hanya isi konten yang penting tapi juga medium yang membentuk cara berpikir mereka.

Menurut Devie, dewasa ini TikTok bukan lagi semata platform hiburan. Lebih dari itu, ia telah menjelma menjadi cara baru memahami dunia. Hal yang sama juga berlaku bagi Instagram. Platform milik Meta itu kini bukan hanya sebatas galeri audio visual, tetapi telah berubah menjadi ruang pembentukan identitas.

Komunikasi Berbasis Kepercayaan dan Komunitas

Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam komunikasi dengan Gen Z di era digital. Hal ini diungkapkan oleh Head of Marketing & Branding Superbank Cut Frinzy Emillie, yang menjadikan kepercayaan sebagai landasan bagi setiap aktivasi komunikasi. “Kami membangun komunikasi bertahap: dari kenal, nyaman, hingga trust. Kepercayaan sangat penting untuk bank, karena tanpa itu, orang tidak akan berani menitipkan uangnya,” tambahnya.

Selain itu, komunikasi berbasis komunitas juga menunjukkan efektivitas tinggi dalam menjangkau Gen Z. Sebagaimana disampaikan CEO Infipop Irfan Prabowo di tempat terpisah, hal tersebut karena Gen Z cenderung berkumpul berdasarkan kesamaan derita atau kesulitan yang dihadapinya (pain-point based). “Mereka berkumpul lebih daripada sekadar interest yang sama,” ungkapnya dalam diskusi GNFI ini.

Menurut pria yang karib disapa Fanbul itu, Gen Z juga punya kecenderungan menonjolkan karakteristiknya melalui gerakan kolektif, sehingga brand perlu hadir di berbagai kanal kehidupan mereka dan membangun komunitas kuat dengan tujuan jelas. “Gen Z tidak terlalu peduli pada ‘what’, melainkan pada ‘why’ dan ‘how’ suatu hal, di mana konteks dan kepedulian (concern) menjadi aspek penting. (ARF)

Sumber: HUMAS Indonesia