TRIBUNJABAR.ID – Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) baru saja meluncurkan trilogi buku kolaborasi praktisi humas bertema besar “Inovasi Bersama untuk Indonesia Berdaya Saing Global”.
Ketiga buku ini berisi pengalaman insan humas dan refleksi kolektif atas praktik terbaik kehumasan nasional. Peluncuran buku dilaksanakan pada puncak acara Konvensi Humas Indonesia (KHI) yang berlangsung di Surabaya (13/12/2025).

Humas Universitas Kristen Maranatha ikut ambil bagian dalam sejarah kehumasan nasional tersebut dengan terpilihnya Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR, Ketua Bidang Kehumasan dan Legal, sebagai salah satu dari 35 penulis buku. Proses seleksi dan kurasi karya tulis dilakukan oleh Perhumas melalui sesi Global Communication Knowledge Conference.
Perhumas menetapkan Iwan Santosa sebagai salah satu penulis buku dengan karya tulis berjudul Humas Perguruan Tinggi di Tengah Tantangan Kolaborasi ESG Lintas Sektor. Karya tulis ini diterbitkan dalam buku Dari Kepatuhan Menuju Aksi Bersama: Peran Humas dalam Mendorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk ESG (Environmental, Social, Governance), dengan ISBN 978-602-383-240-8.

Sementara itu, dua buku lainnya bagian dari trilogi berjudul Humas untuk Kebanggaan Nasional: Memanfaatkan Prestasi, Budaya, dan Keberagaman sebagai Aset Komunikasi Global (ISBN 978-602-383-239-2) dan Komunikasi Krisis di Era Digital: Mengelola Narasi di Tengah Lanskap Digital yang Terfragmentasi (ISBN 978-602-383-238-5).
Soroti Peran Humas Perguruan Tinggi
Iwan Santosa selaku praktisi humas perguruan tinggi sekaligus anggota Perhumas menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kesempatan tersebut.
“Puji syukur, sebuah kehormatan bagi saya selaku insan humas sekaligus insan kependidikan dapat berkontribusi dalam buku yang istimewa ini, bersama penulis-penulis hebat, pakar komunikasi dan kehumasan Indonesia. Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh Perhumas beserta seluruh tim reviewer,” ungkapnya.
Dalam buku tersebut, Iwan menyoroti peran humas perguruan tinggi sebagai salah satu komponen strategis dalam kolaborasi menghadapi tantangan global.
“Isu ESG sudah cukup dikenal di kalangan korporasi, dan ada irisannya dengan SDGs (Sustainable Development Goals) yang menjadi isu penting dewasa ini,” jelas Iwan dalam keterangannya (6/1/2026).
“Dalam peta ESG dan SDGs yang menuntut kolaborasi lintas sektor, di manakah peran akademisi dan institusi pendidikan tinggi? Inilah yang saya angkat,” lanjutnya. Secara spesifik, Iwan melalui karya tulisnya membahas peran krusial humas perguruan tinggi dalam konteks tersebut, sekaligus permasalahan yang dihadapi di era PR 4.0, juga upaya solusinya.
Humas sebagai Pilar Strategis
Peluncuran tiga buku seri kolaborasi praktisi humas Indonesia merupakan salah satu agenda penting dalam KHI 2025. Selain itu, rangkaian kegiatan KHI 2025 dipenuhi dengan sesi diskusi dan pertukaran gagasan menghadirkan tokoh-tokoh penting kehumasan nasional dan internasional.
KHI 2025 menjadi momentum peluncuran agenda-agenda strategis Perhumas yang memberikan arah baru profesi kehumasan Indonesia, mengedepankan peran strategis profesi kehumasan di tengah percepatan digitalisasi dan tantangan globalisasi.
Ketua Umum Perhumas, Boy Kelana Soebroto, MCIPR dalam sambutannya menegaskan bahwa profesi kehumasan telah bertransformasi dari peran pendukung menjadi aktor strategis yang berada di garda terdepan dalam menjaga harmoni informasi, menjaga kedaulatan dan martabat bangsa, serta memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.
Boy Kelana menyebutkan, tantangan kehumasan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penyampaian pesan, tetapi juga meliputi disrupsi teknologi termasuk AI, otomatisasi ruang informasi, kompetisi reputasi bangsa di tingkat global, transformasi ESG, serta risiko polarisasi sosial akibat disinformasi.
Ia menegaskan bahwa fokus konvensi ini juga untuk menguatkan gerakan #IndonesiaBicaraBaik. “Mengingat arus informasi yang semakin dipenuhi dengan polarisasi dan pesimisme, Gerakan #IndonesiaBicaraBaik menjadi ruang bersama untuk menyuarakan hal-hal positif, membangun harapan, dan memperkuat narasi bangsa yang positif,” ujarnya.
Sementara itu, dari perspektif pemerintah pusat, Fifi Aleyda Yahya, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi), menekankan bahwa kecepatan perubahan dan perkembangan zaman menuntut insan humas untuk semakin adaptif tanpa adanya kehilangan dimensi kemanusiaan.
Berikutnya, Gubernur Jawa Timur, Hj. Dr. (HC) Khofifah Indar Parawansa, M.Si. menyampaikan bahwa KHI 2025 bukan sekadar forum narasi, melainkan ruang refleksi tentang cara ber-Indonesia dan bernusantara.
“Perhumas memiliki posisi strategis untuk menggerakkan kebaikan melalui gerakan #IndonesiaBicaraBaik, agar kebaikan Indonesia dapat terus bergema hingga ke dunia. Saya juga berharap KHI 2025 Surabaya menjadi ruang sinergi, jejaring, dan kolaborasi lintas sektor demi kemajuan bangsa,” kata Khofifah dalam sambutannya.
Melalui Konvensi Humas Indonesia 2025, Perhumas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat komunikasi kebangsaan yang berkelanjutan, memperkokoh reputasi Indonesia, dan menempatkan humas sebagai pilar strategis pembangunan bangsa di tengah era globalisasi.
Sumber: Tribun News